A Look at Norwegian Wood
I once had a girl, or should I say, she once had me…
She showed me her room, isn't it good, Norwegian wood?”
(Norwegian Wood, The Beatles)
Toru Watanabe tersentak begitu mendengar lagu tersebut, di atas sebuah pesawat yang akan membawanya ke Jerman. Ia kemudian teringat akan Naoko, cinta pertamanya, yang juga kekasih mendiang sahabat karibnya, Kizuki. Toru lalu terlempar ke masa-masa kuliah di Tokyo 20 tahun yang lalu, di mana ia terhanyut dalam dunia pertemanan yang serba pelik, seks bebas, nafsu, dan rasa hampa—hingga ke masa munculnya seorang gadis Midori. Saat itulah Toru harus memilih antara masa depan dan masa silam...
“She asked me to stay and she told me to sit anywhere,
So I looked around and I noticed there wasn't a chair.”
Toru, sang protagonis, bukanlah sosok mengesankan, gagah, maupun pintar. Sebaliknya, ia adalah gambaran anak muda yang biasa-biasa saja, yang tinggal di sebuah asrama universitas di Tokyo pada setting tahun 1960-an. Suatu hari, tanpa sengaja, Toru berjumpa dengan teman masa kecilnya di Kobe –sekaligus cinta pertamanya—Naoko, di sebuah kereta. Naoko, sejatinya adalah kekasih dari Kizuki, sahabat karib Toru. Namun, saat masih duduk di bangku sekolah, Kizuki bunuh diri karena motif yang masih menjadi misteri. Perlahan, Toru dan Naoko kemudian sering menghabiskan waktu berdua, dan hubungan mereka menjadi dekat.
Sayangnya, Naoko masih dibelenggu oleh ingatan dan memorinya pada Kizuki. Tak peduli dengan segala usaha dan dukungan Toru, Naoko merasa stres dan perlahan mengalami tekanan mental. Toru pun ditinggal sendiri sementara Naoko menghilang untuk perawatan. Pada saat-saat sendiri tersebut, muncullah seorang gadis baru dalam kehidupannya: Midori.
Pada titik ini, cerita kemudian seakan berkembang menjadi cinta segi tiga. Namun, sebenarnya lebih dari itu, Murakami kemudian berhasil menunjukkan bahwa hidup tak selamanya berjalan seperti yang kita harapkan, dan terkadang ada tindakan-tindakan yang tidak bisa kita definisikan salah-benarnya, dan yang harus kita lakukan hanyalah terus maju sembari berharap bahwa di sepanjang jalan itu kita tidak akan meyakiti orang lain.
“I sat on a rug, biding my time, drinking her wine.
We talked until two and then she said, "It's time for bed"
Toru sendiri adalah sesosok pribadi yang sedang bingung. Dia menghadapi dilema: apakah lebih baik menunggu Naoko sembuh, atau mengabdikan hati sepenuhnya pada Midori. Toru pun kemudian memutuskan untuk menemui Naoko di pusat rehabilitasi, dan berkenalan dengan Reiko; sahabat sekaligus ‘ibu’ dari Naoko. Di sanalah, Toru kemudian menemukan jawaban atas sakitnya mental Naoko yang selama ini tak ia ketahui.
Norwegian Wood dipenuhi oleh karakter-karakter unik (atau ganjil?) yang selama ini mungkin dianggap elusif atau sukar dipahami, namun sejatinya mereka bisa saja eksis di sekitar kita. Naoko, walau manis, adalah seorang karakter dengan gangguan psikologis akibat bunuh dirinya sang pacar. Sementara, Reiko, teman Naoko adalah mantan pemain piano handal yang depresi karena dilecehkan secara seksual oleh murid lesnya, seorang gadis lesbian. Mungkin hanya Midori yang memiliki hidup “lurus-lurus saja” walaupun berpenampilan nyentrik ala remaja Barat.
“She told me she worked in the morning and started to laugh.
I told her I didn't and crawled off to sleep in the bath”
Salah satu bagian yang jenius dari penggambaran Murakami tentang pikiran manusia adalah ketika Toru mengunjungi Naoko di sebuah pusat rehabilitasi. Fakta bahwa susah untuk membedakan yang mana dokter, dan yang mana pasien menunjukkan bahwa semua manusia memiliki sifat-sifat ganjil yang membuat kita terkadang tampak abnormal. Seperti yang selalu ditekankan oleh Reiko pada Toru: “Kita semua adalah manusia yang tidak sempurna, dan tinggal di dunia yang tidak sempurna.”
Yang mengejutkan dalam novel ini adalah gambaran ‘telanjang’ mengenai perilaku seks bebas remaja Jepang pada setting 1960an. Perilaku one night stand, masturbasi hingga kecenderungan lesbian digambarkan sebagai sesuatu yang terkesan wajar. Bahkan, ajakan untuk melakukan hubungan intim terdengar santai sehingga seks kemudian menjadi sekedar ajang silahturahmi. Misalnya adegan ketika Toru melakukannya dengan Reiko, yang 19 tahun lebih tua daripadanya:
“Hei Watanabe, ayo kita melakukan itu,” begitu selesai memainkan lagu itu Reiko-san berkata pelan.
“Lucu ya,” kataku. “Aku pun berpikiran sama.” (hal 544)
Toru yang digambarkan sebagai “just an ordinary guy” kemudian belajar untuk memahami dirinya sendiri, yang kemudian menuntunnya untuk memilih cinta yang tepat. Walaupun akhirnya, kebimbangan hatinya kemudian membuatnya ditinggal oleh semua orang-orang yang dicintainya, persis lirik Norwegian Wood:
“And when I awoke, I was alone, this bird had flown.
So I lit a fire, isn't it good, Norwegian wood.”
Fiuh.. Nice novel ;)
Catatan:
*Ketika pertama kali diterbitkan di Tokyo pada 1987, novel Norwegian Wood terjual sebanyak 4 juta kopi, dan membawa sang pengarang, Haruki Murakami menjadi salah satu pengarang yang disegani di Jepang. Murakami, sebelumnya pernah memenangkan penghargaan Gunzo Prize pada 1979 untuk novel Kaze no Uta o Kike (Hear the Wind Sing). Dan seperti novel-novel Jepang lainnya, Norwegian Wood layaknya autobiografi seseorang dengan menggunakan narasi “aku”.
*Novel ini juga dilatari pemberontakan mahasiswa, pergaulan bebas anak muda Tokyo, dan lagu-lagu pop 1960-an yang dinyanyikan oleh The Beatles, Bob Dylan, Simon and Garfunkel, serta para pemusik sezamannya. Lagu-lagu itu, terutama "Norwegian Wood" karya The Beatles yang dijadikan judul novel ini, bukan hanya sekadar tempelan tanpa makna, melainkan menjiwai kisah hidup para tokoh novel ini. Seperti perkataan Reiko tentang The Beatles, "Orang-orang ini memang tahu betul kepedihan dan kelembutan hidup ya." (hlm 542).
*Di Jepang novel ini mendapat sambutan luas para kritisi dan kemudian diterjemahkan ke dalam belasan bahasa, tetapi sekaligus menjadi sasaran kritik pedas kaum puritan karena dianggap terlalu gamblang menceritakan pemberontakan kaum muda. Anak-anak muda menyukai novel-novelnya karena menyuarakan apa yang mereka alami dan rasakan, tetapi generasi tua mengkritiknya karena dianggap terlalu kebarat-baratan. Akibatnya, Murakami dan istrinya sempat memutuskan hijrah ke Eropa dan Amerika selama beberapa tahun (Yuniarti, Mita. Menelusuri Norwegian Wood, antara Maut dan Cinta. Media Indonesia, 9 Oktober 2005)


Comments